Pribumi Crazy Rich di Masa Penjajahan Mempunyai Harta Senilai Rp. 7 Triliun

- Jurnalis

Rabu, 13 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Polisi zaman penjajahan, sumber tirto id

Foto Polisi zaman penjajahan, sumber tirto id

Pada zaman penjajahan belanda banyak rakyat yang hidup serba kesusahan.

Karena rakyat tidak bisa berdikari dan menentukan hidupnya sendiri saat penjajahan.

Harta dan kekayaan alam bangsa Indonesia diangkut penjajah atas nama Imperialisme.

Meskipun sekarang Indonesia sudah merdeka dan rakyat masih banyak yang susah.

Tetapi pada zaman penjajahan dulu ada orang Indonesia yang sukses dan kaya raya.

Rakyat tersebut bernama Taspirin yang mempunyai harta senilai Rp. 7 Triliun.

Usaha yang dijalankan adalah jualan kulit hewan, bisnis penjagalan dan es batu.

Banyak sumber yang mengabarkan bahwa taspirin adalah salah satu Crazy Rich di masa penjajahan.

Baca Juga :  Tokoh Perang Surabaya Dalam Membangkitkan Semangat Perlawanan Lewat Pidato dan Pesantren

Sangat sedikit referensi yang menuliskan cerita masa kecil taspirin sampai jadi pebisnis.

Namun fakta yang terjadi dia tumbuh besar di Semarang ketika sektor perdagangan sedang bergairah.

Tasripin kaum pribumi yang bisa memanfaatkan situasi untuk membangun bisnis dan memupuk kekayaan.

Referensi menyebutkan Semasa hidupnya, Tasripin memiliki tiga sektor bisnis.

1. Bisnis kulit hewan.

Kulit hewan ini diolah untuk pembuatan kulit tas dan sepatu pada masa itu.

Tokoh pers era kolonial Tirto Adhi Soerjo, dikutip sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula (2003) menuliskan.

Baca Juga :  PHK Besar Besaran Dilakukan Google Dan YouTube Dengan Alasan Perampingan Bisnis

Tasripin adalah seorang pengusaha kulit termahsyur di Semarang.

Bisnis Tasripin tercatat sebagai salah satu serikat dagang milik kaum pribumi yang sukses.

Meski pada waktu itu bisnisnya belum tercatat sebagai badan hukum.

2. Usaha penjagalan hewan.

De Locomotief (21/3/1902) menulis, dia tercatat memiliki rumah potong hewan di daerah Karang Bidara dan Kampung Beduk, Semarang.

Kepemilikan rumah potong hewan semakin melancarkan langkah Tasripin berbisnis.

Sebab dia mudah mengakses kulit-kulit dari domba, kerbau dan sapi untuk keperluan pengolahan kulit.

3. Bisnis es batu.

Sumber Berita : cnbc

Berita Terkait

Hasto Tidak Menghadiri Pangilan KPK Karena Bertugas di Luar Kota, Bantah Terlibat Korupsi DJKA
Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Menjadi Saksi Korupsi, Diperiksa Penyidik KPK
Bebas Murni Setelah Menjalani Vonis 1 Tahun Penjara di Lapas Indramayu, Panji Gumilang Tidak Perlu Wajib Lapor
Ketua PWI Pusat Melawan Dewan Kehormatan Karena Dianggap Memberhentikan Secara Tidak Sah
Pembangunan Batalyon Brimob Akan Dilakukan di Beberapa Wilayah Papua, Untuk Meningkatkan Stabilitas Keamanan
Suami BCL Dilaporkan Mantan Istrinya Karena Kasus Penggelapan Dana, Berawal Dari Membangun Bisnis Makanan dan Minuman
Pegi Setiawan Bebas Dari Tahanan Setelah Menang Praperadilan, Berikut Penjelasan Hakim Tunggal Pengadilan Negeri Bandung
Investasi 40 Triliun Akan Didatangkan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus di Batam

Berita Terkait

Minggu, 21 Juli 2024 - 16:04 WIB

Hasto Tidak Menghadiri Pangilan KPK Karena Bertugas di Luar Kota, Bantah Terlibat Korupsi DJKA

Minggu, 21 Juli 2024 - 16:00 WIB

Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Menjadi Saksi Korupsi, Diperiksa Penyidik KPK

Kamis, 18 Juli 2024 - 12:02 WIB

Bebas Murni Setelah Menjalani Vonis 1 Tahun Penjara di Lapas Indramayu, Panji Gumilang Tidak Perlu Wajib Lapor

Rabu, 17 Juli 2024 - 16:03 WIB

Ketua PWI Pusat Melawan Dewan Kehormatan Karena Dianggap Memberhentikan Secara Tidak Sah

Rabu, 17 Juli 2024 - 15:57 WIB

Pembangunan Batalyon Brimob Akan Dilakukan di Beberapa Wilayah Papua, Untuk Meningkatkan Stabilitas Keamanan

Berita Terbaru